“KRISTUS YESUS YANG PENUH CINTA KASIH” --(Sebuah artikel oleh: Hergung “Ci’ung” Kadarman)--

               

Jika berbicara tentang kisah di Akitab yang menyentuh hati, salah satu diantaranya yang palingdalam menyentuh hati saya adalah kisah tentang bagaimana YESUS membangkitkan Petrus dari keterpurukkannya.
“Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus” (Yoh 21: 1-4).
          Petrus merasa tidak layak lagi menjadi seorang rasul. Mengapa? Ia pernah bersumpah setia akan mengiring Kristus hingga ajalnya. Namun pada kenyataannya Petrus mennyangkal Yesus hingga tiga kali. Kegagalan itu adalah seburuk pukulan telak yang menghantam hatinya. Petrus bergumul dengan trauma untuk melayani Tuhan. Petrus lari dari panggilannya karena ia bukan hanya merasa gagal, ia benar-benar telah gagal..! Simon Petrus terpuruk! Dalam penuduhan dan rasa malu sebab ia telah mengutuk dan bersumpah bahwa ia tidak mengenal Yesus. ‘Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu." Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud." Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu." Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.’
(Matius 26: 69-75)
          Peristiwa itu sungguh-sungguh menjadi sebuah kenangan buruk yang menghantui jiwanya. Ia hanya seorang insan benar-benar terluka terlumpuhkan oleh rasa bersalah. Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.” (Lukas 22: 60-62).
          Oleh karena itulah Petrus meninggalkan panggilannya yang tinggi mulia sebagai penjala manusia lalu berbalik-lagi menjadi seorang penjala ikan. Petrus sedang lari jauh dari Hadapan TUHAN bagaikan Nabi Yunus lari dari Niniwe ke Tarsis. Namun dengan indahnya Yesus menanggulangi Petrus. Yesus tidak menunggu Petrus datang untuk meminta maaf, menyatakan penyesalan dan mengaku bersalah. Yesus tidak mengutuk, memaki atau mengungkit kesalahan. Yesus tidak membicarakan kejatuhan Petrus pada orang-orang terdekatnya. Yesus hanya menyentuh hatinya dengan kasih. Dia bersikap ramah bukannya marah pada murid yang telah mengecewakan-Nya dengan sumpah dan janji palsu.
Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.” (Yoh. 21:6)  Murid-murid yang telah berbalik dari panggilan kudus itu tak dapat mengenali Yesus, entah karena Yesus dalam kuasa adikodratinya menyamarkan kehadirannya, entah karena murid-murid itu telah terlalu keras hatinya terlalu lama melupakan YESUS atau entah karena ada selaput yang menutup mata hati mereka. Namun pengampunan TUHAN lebih besar daripada pelanggaran kita, karena Setia-Nya lebih besar daripada kedegilan hati kita. Dalam Kasih-Sayang-Nya yang besar YESUS menarik kembali murid yang yang telah murtad untuk kembali ke jalan yang benar. Tuhan melelehkan kembali hati Petrus yang telah beku dengan mengingatkan kembali perjumpaan pribadi Petrus dengan-Nya pada kasih mula-mulanya.

“Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.“ (Lukas 5: 3-11).

Oh betapa indahnya..! Saat murid-murid meletakkan panggilan menjadi penjala manusia dengan sekedar untuk kembali berbalik menjadi penjala ikan; pada saat itulah Yesus datang untuk mengulang kembali peristiwa ketika mereka meletakkan jalanya, meninggalkan penghidupan  sebagai penjala ikan untuk mengejar Pangilan Surgawi sebagai penjala manusia. Mungkin bagi anda dan saya itu adalah sebuah peristiwa biasa. Namun bagi seorang Simon, peristiwa itu tak ubahnya sebuah nostalgia manis yang terulang kembali. Kristus mengingatkan kembali betapa mengagumkan cara TUHAN memanggilnya. Saya teringat akan syair lagu:

“Anugerah-mu kepadaku tak pernah berubah,
Perbuatan-Mu terlukiskan di dalam hatiku
Tercengangku dibuat-Mukukagum pada-Mu
Tak ada hal dihidupku yang luput darimu
Kau indah...Kau mulia...tiada s’perti-Mu
kuingin hidupku meyenangkan-Mu..
Sgala puji, sgala hormat..
Segnap hatiku menyembah-Mu
Terimalah s’gnap hidupku
S’bagai persembahan yang hidup bagi-Mu.”


                                      ---- (by: GMB / “Giving My Best”) ---


Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas. Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel. TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” (Mazmur 103: 1-14)

Demikianlah di dalam hidup ini, terkadang kita merasa lemah, lelah dan kering. Merasa sepertinya tidak ada TUHAN. Kita merasa Dia begitu jauh. Keadaan hanya membuat kita merasa terpuruk, tak berdaya dan kalah. Disaat-saat seperti itulah kita harus belajar mengingat segala kebaikan yang TUHAN penah kerjakan di dalam hidup kita. Jangan pernah rela kehilangan itu. Bahkan disaat-saat terkering dan terberat di dalam hidupmu, bisikkanlah kepada Roh Kudus kekasih hatimu, “aku masih mengingatnya TUHAN, aku masih mengingatnya. Aku masih ingat segala perbuatan-mu yang ajaib, ku takan lupa jamahan-Mu yang manis. Ku tak ingin melupakan sungguh dalam Kau menjamah hatiku.”

Ketika YESUS menampakkan diri kepada Petrus, sang rasul telah berbalik meninggalkan panggilan rasulinya untuk kembali menjadi nelayan. Pada saat yang tepat YESUS memunculkan kembali kenangan bagaimana tiga setengah tahun sebelumnya Simon meletakkan jala ikannya untuk menjadi penjala manusia. Sebuah kesaksian yang t’lah lama tertidur itu tergugah dalam batinnya. Kini sang rasul yang gagal dan bebal tersadar. Hati kecilnya tak dapat menyangkali bahwa Ia pernah mengecap kasih-mula-mula di masa yang t’lah lalu. Cinta kasih yang pertama dimana baginya tiada yang lebih indah baginya selain TUHAN. TUHAN telah menangkap hatinya, telah memenangkan seluruh cintanya. Itulah saat pertama ia jumpa juru-selamatnya. Kala itu jiwanya benar-benar menyadari Kristus TUHAN sungguh menakjubkan. Waktu-waktu dimana Simon melepaskan segala sesuatu demi ia dapat mempersembahkan dirinya mengejar panggilan sorgawi. Masa-masa dimana ia menemukan kebahagiaan sejati meski ia harus kehilangan segalanya. Pengalaman-pengalaman dimana ia begitu bersemangat melayani TUHAN yang dengan penuh cinta dan pengabdian diiringnya slalu. Sebuah hasrat yang membuatnya selalu ingin berada dimana Tuhannya berada. Diingatnya kembali kala menemukan kepuasan saat bekerja bersama TUHAN nya. Meski dunia memandangnya hina untuk memikul salib, namun sesuatu di dalam dirinya dapat meyakini ia sedang berada di jalan yang benar. Ia terkenang kembali akan keputusan yang pernah diambilnya. Sebuah kehangatan kasih menyentuh hatinya, didapatinya itu manis. Semanis saat pertama kali ia mengecapnya. Bagaimana mungkin ia dapat membohongi dirinya sendiri? Nelayan itupun tak dapat lari dari panggilannya yang paling hakiki. Petrus telah berusaha mengubur kenangan perjumpaan dengan TUHAN, ia berusaha melupakannya namun ia tak bisa. Dan kala Petrus berusaha melupakannya, adalah TUHAN dan bukannya Petrus; adalah TUHAN sendiri dalam Kasih Setia dan Kesabaran-Nya yang besar mengambil inisiatif untuk mengingatkan Petrus tentang apa yang pernah ia alami bersama TUHAN. Sejauh apapun Simon berlari, TUHAN yang lembut itu setia menantinya kembali.Oh betapa rohani! Betapa dalam kasih sayang Tuhan pada jiwa yang murtad. Kristus mendatangi jiwa yang telah sesat dan salah langkah tanpa pernah membenci, membuang ataupun mengucilkan. Ketika Yesus datang, ia tidak muncul dengan muka marah, geram, terluka, kecewa, terkhianati, dendam atau seorang yang hendak mengadakan perhitungan. 
Yesus menilik ke dalam hati Petrus yang sedang lunglai dengan rasa bersalah dan kasih-Nya tak ingin membuatnya lebih tertuduh dengan rasa bersalah dan penghakiman. Yesus tidak membuat Petrus takut mendekat dengan bertanya:
“Mengapa engkau lari meninggalkanku sendiri saat aku ditangkap akan disalib?!” 
“Mengapa engkau menyangkal bahwa engkau mengenal aku?”
“Dimana saja kau selama ini?”
“Apakah kau sudah tau dimana salahmu? Apa kau sudah sadar apa dosamu?;
Sebab jika pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan, Petrus pasti menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, tertuduh malu atau bahkan menangis larut dalam perasaan bedosa.
Tidak! Yesus tidak menanyakan hal itu! Sang Mesias tau jiwa Simon sedang terkekang dalam penuduhan dan ia datang bukan untuk membuatnya menjadi orang yang semakin tertuduh terhukum. Yesus datang untuk melepaskan jiwa-jiwa yang terbelenggu agar keluar dari penuduhan! Halleluya!

Yesus datang dengan wajah yaang bersahabat, dengan hati yang ramah. Yesus tak pernah memalingkan muka saat berjumpa murid-murid yang telah sangat mengecewakan itu. Tidak diawali dengan percakapan yang berat, hanya sebuah obrolan ringan agar para murid itu tak merasa tertekan ataupun takut. Yesus tidak menatap mata Petrus dengan tatapan nanar. Ia tidak menjabat tangan Petrus dengan dingin. Ia tidak memalingkan wajah karena dendam.

“Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada.” (Yoh 21:5)

Puji TUHAN! Yesus benar-benar memberikan kita teladan seorang pemimpin yang lapang dada berjiwa besar. Secara insani masuk akal jika Yesus merasa sangat sedih saat semua murid-murid lari menyelamatkan diri masing-masing sementara Sang Guru ditinggalkan seorang diri. Murid-murid yang dulu Ia gembalakan dengan penuh kasih sayang kini semua telah berbalik meninggalkan-Nya.Orang-orang yang ia kasihi dengan penuh pengorbanan tak seorangpun setia disamping-Nya. Orang-orang yang ia ajar dan muridkan dengan penuh dedikasi telah tega mengkhianti Sang Guru. Yesus juga seratus persen manusia! Ia bisa saja datang untuk meluapkan geram amarah atas ketidak-setiaaan mereka. Jika Yesus mau, bisa saja Dia datang dengan nada suara yang tinggi atau berteriak: “Hai orang-orang yang tidak setia! Dimanakah kalian saat aku butuh kalian berdiri di sampingku?!” Sekalipun Yesus berhak untuk bersikap seperti itu, alih-alih menunjukkan respon marah, IA membicarakan menu hidangan sarapan. Sebuah topik pembicaraan ringan yang menyenangkan. Hal itu mengingatkan kita akan pelayan rumah makan yang menawarkan menu makanan dengan senyuman ramah. Kristus yang penuh kasih pasti ingin membuat kita merasa diterima dan bukan merasa tertolak. Yesus bersikap “hospitable”, jauh dari sikap arogan atau “bossy” yang susah didekati. “Maka murid yang dikasihi YESUS itu berkata kepada Petrus: “Itu TUHAN” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah TUHANmaka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.” (Yohanes 21: 7-14).

Yesus adalah sebuah figur yang penuh kasih, seorang pribadi yang meluap dengan kasih, murid yang terdekat dengannya menyebut dirinya “murid yang dikasihi-Nya”; hal ini memberi kita gambaran betapa indahnya berhubungan dengan-Nya.
          Di satu sisi kita membaca dalam nats diatas: “Maka murid yang dikasihi YESUS itu berkata kepada Petrus: “Itu TUHAN” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah TUHAN maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian lalu terjun ke dalam danau.”Petrus terjun ke dalam danau! Ia tak hanya sekedar menanggapinya dengan sepi. Ia tak sabar untuk mendayung perahu yang penuh sesak dengan muatan ikan itu bergerak lambat mendekati Sang Guru. Ia tak sabar bertemu Tuhan yang dikasihinya. Ia terjun, berenang, dan berlari! Kasih membuat hatinya yang dingin tersulut api cinta kasih! Dari kisah ini saya belajar satu hal agar kita sadar bahwa kita bukanlah Tuhan yang berhak menghakimi saudara kita yang sedang terpuruk. Kita tak pernah tau seberat apa badai hidup yang Tuhan izinkan harus dihadapinya, kita tak pantas menghakimi. Kita tak tau apakah Tuhan sendiri sedang menariknya kembali. Siapakah kita ini hingga kita berani lancang mencegah Tangan Yang Maha-Kuasa yang sedang menariknya kembali? Kita tak tau seberapa besar kerinduan terpendam di hatinya untuk kembali pada TUHAN pencipta jiwanya. Petrus tak mendayung perlahan perahunya. Petrus menceburkan diri berenang penuh semangat girang hati berenang dan kemudian berlari menyambut kembali TUHAN yang t’lah dikhianatinya. Jika TUHAN tak menolak Petrus, bolehkan kita menolak seseorang yang rindu kembali pada TUHAN? Setelah Petrus bertobat dan dipulihkan, ia memenangkan 3.000 jiwa dalam sekali khotbah penuh pengurapan. Kita tak cukup pintar untuk bisa meramalkan akhir hidup seseorang. Jika saudara kita yang murtad nantinya telah dipulihkan TUHAN, kita tak pernah tau seberapa dahsyat potensinya akan diurapi Tuhan. Saudaraku, kita tak boleh menghakiminya. Mari kita memiliki hati Kristus di dalam hati kita terhadap jiwa-jiwa murtad yang rindu dipulihkan: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yoh. 6:37)
Ketika Yesus menampakkan diri setelah Kebangkitan-Nya, murid-murid itu takut mendekati Sang Guru sebab para murid sungguh sadar, sesadar-sadarnya bahwa mereka telah mengecewakan dan mengkhianati Sang Guru dengan lari menyelamatkan diri dan membiarkan insan Yesus yang malang seorang diri menghadapi jalan salib. Murid-murid ragu mendekat pada-Nya di Kalvari Golgota. Takut! Namun pribadi yang penuh kasih bukanlah pribadi yang susah didekati. Keramah-tamahan-Nya membuat seorang pendosa tak canggung mendekat. “Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.” (Yoh 21: 12-13). Demikianlah Yesus datang bagai seorang ayah yang sayang anaknya atau bagaikan seorang ibu memperhatikan anaknya. Tak ada alasan untuk takut. Hanya senyuman bersahabat dan sorot mata yang hangat. Kasih itu bukanlah untaian kata-kata mutiara. Kasih bukanlah puisi nan indah. Kasih itu ada di sorot matamu. Kasih itu ada dalam senyumanmu, kasih itu ada dalam bahasa tubuhmu, kasih itu ada dalam ucapan dan nada bicaramu. Kasih itu harus dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan nyata terhadap sesamamu. Bagi saya secara pribadi, Anda tak usah mengucapkan rangkaian kata-kata indah untuk membuat saya merasa dikasihi. Kasih tidak bisa dibuat-buat dalam kepura-puraan. Cukuplah bagi saya menatap ke dalam bola mata Anda saat memandang saya, dalam beberapa detik saya dapat merasakan apakah saudara tulus mengasihi saya ataukah tidak. Mata tak dapat bohong sebab mata adalah jendela hati!
          Saya ingat sebuah lagu  berbahasa Inggris yang berjudul “Jesus, a Friend of sinners”yang mengingatkan saya pada ayat Firman TUHAN: “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada YESUS untuk mendengarkan Dia.” (Lukas 15:1). Apakah kasih kita mengundang para pendosa untuk tertarik mendekat untuk mendengar kebenaran dan bertobat? Ataukah kita membuat mereka merasa tertolak? Apakah justru kita mendepak dan menendang keluar mereka yang rindu kembali pada-Nya?
          Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
(Yoh. 21: 15-17)
          Sungguh indah TUHAN YESUS memanggil kembali jiwa yang telah murtad. Sungguh lembut Suara-Nya memanggil seorang yang telah sesat, hati yang penat dengan perasaan bersalah. Tiga kali Petrus telah menyangkal YESUS, tiga kali pula YESUS menanyai Petrus. Tiga kali Petrus megkhianati Gembala jiwanya, tiga kali pula Sang Gembala Agung membalut luka hatinya. Yesus datang membawa botol obat TUHAN untuk menyembuhkan iman Petrus yang terluka menganga. YESUS tau segala sesuatu, bahkan Ia tau rahasia hati kita yang terdalam. Bukankah YESUS tau? Bukankah IA tak perlu menanyakan tentang isi hati Petrus? Bukankah ia dapat menyelami pikiran semua orang? Buat apa lagi YESUS menanyakan sesuatu yang tak perlu lagi ia cari tau? Sebetulnya Sang Gembala Agung hanya ingin menolong dombanya sembuh dari luka batin, YESUS mau Petrus bangkit dari keterpurukkan. Tujuan dari pertanyaan YESUS adalah agar dalam jawabannya Petrus menangkap sebuah kesadaran, agar secara tidak sengaja Petrus akan mengucapkan sebuah pengakuan iman untuk mematahkan segala penuduhan yang merongrong jiwanya. Iblis pasti telah menindih jiwanya dengan penghakiman yang membuat dia percaya kebohongan iblis bahwa ia tak pantas disebut orang yang mengasihi TUHAN. Ketika Petrus berkata: “Benar TUHAN ENGKAU tau bahwa aku mengasihi ENGKAU (tiga kali bdk Yoh 21: 15, 16 & 17) itu menyulut kembali nyala api cinta kasihnya pada TUHAN yang telah pudar dan nyaris padam.

“Buluh yang terkulai tak kan dipatahkannya,
Dia kan jadikan indah,
Sungguh lebih berharga
Sumbu yang t’lah pudar
Tak kan dipadamkan-Nya
Dia kan jadikan terang
Untuk Kemuliaan-Nya.” 

--(lirik oleh : Giving My Best)--

Saat Petrus mengucapkannya untuk kedua-kalinya: “Benar TUHAN, ENGKAU tahu, bahwa aku mengasihi ENGKAU.” Itu adalah sebuah deklarasi iman yang memadamkan dan mematahkan panah-panah api si jahat! Dan ketika Petrus mengucapkannya untuk yang ketiga-kalinya: “TUHAN, ENGKAU tau segala sesuatu, ENGKAU tau bahwa aku mengasihi ENGKAU.” Itu benar-benar meneguhkan hatinya. Ia mengalami sebuah lompatan iman dari mental seorang pecundang menjadi mental seorang pemenang! Sebuah letupan semangat muncul dari dalam diriya. Sebuah percikan api mulai tersulut. Ia siap terbakar bagi YESUS! Saat ia lemah, tertuduh dan terpuruk, YESUS datang dalam Kasih-Setia-Nya yang besar. Memberinya kasih, pengampunan, penerimaan dan letupan semangat! Saat Petrus merasa dirinya tidak layak lagi, TUHAN datang membawa Anugerah yang manis yang menatang imannya bangkit. Saya tidak tau lagi bagaimana menjelaskannya. Petrus bangkit untuk bersinar! Dibutuhkan seseorang yang mengasihi untuk membangkitkan seorang yang terpuruk. Bukan orang yang menghakimi, membuang atau mengucilkan!
          Kisah ini beranalogi dengan sebuah kisah lain tentang bagaimana Elia terpuruk dan TUHAN memulihkannya kembali (I Raja-Raja 19). Seorang nabi mengalami keterpurukkan, sebuah kejatuhan yang dalam setelah kemenangan yang besar. Konyol! Namun jika seoran nabi yang penuh urapan saja pernah mengalami keterpurukkan, bisakah kita menyangkali fakta bahwa sebenarnya masing-masing setiap kitasendiri juga pernah mengalami kejatuhan? “Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (I Raja-Raja 19: 1-4)Jika TUHAN tidak mendepak nabinya yang lemah dan gagal, pantaskah kita mempermalukan saudara kita yang tengah lemah dan gagal? 
          Elia benar-benar sedang lemah dan terpuruk! “Disana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka Firman TUHAN datang kepadanya, demikianlah: “Apakah kerjamu disini, hai Elia?” Jawabnya: “aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, ALLAH semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” (I Raja-Raja 19: 9-10).
          “Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi keluar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu disini, hai Elia?” Jawabnya, “aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, ALLAH semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang, hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.” (ayat 13-14).
          Saya percaya TUHAN dan malaikatnya tau bahwa Elia sedang terpuruk. Ia sedang bermalas-malasan, membung-buang waktu yang berharga, mengasihani diri-sendiri dan melihat ke diri-sendiri sebagai orang lemah. Buat apa TUHAN masih bertanya lagi? Namun TUHAN adalah TUHAN yang ikut merasakan kesedihan di dalam hati anak-anak-Nya yang sedang sedih. Ia tak rela melihat anak-Nya terus ada di dalam kelemahan. Dia tak sampai hati menyaksikan kita terkulai dan terpuruk dalam kegagalan. TUHAN ingin kita menjadi laskar yang kuat bukan menjadi orang yang cengeng. Ketika TUHAN bertanya:
“Apakah kerjamu disini, hai Elia?” Dimaksudkan untuk memancing Elia menyangkali keterpurukkannya, agar Elia melompat bangkit dari keadaannya!  Untuk mendorong Elia keluar dari kekalahannya! Saat Elia berkata “aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN”, membangkitkan semangatnya agar bangkit: Untuk kedua-kalinya TUHAN bertanya pada Elia: “Apakah kerjamu disini, hai Elia? TUHAN ingin Elia berhenti mengasihani dirinya sendiri dan menguatkan hatinya sendiri di Hadapan TUHAN: “aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN!” TUHAN yang penuh Kasih Setia itu bukannya menghakimi, menolak dan membuang si nabi Elia yang pernah jatuh terpuruk, justru kemudian TUHAN mempercayainya untuk sebuah mandat yang lebih signifikan.
“Firman TUHAN kepadanya: ‘Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang-gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah Kau urapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Menola, harus Kau urapi menjadi nabi menggantikan engkau. Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. Tetapi aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.” (I Raja-Raja 19: 15-18).

Seringkali ketika kita jatuh kita berfikir akan sangat sulit untuk bangkit kembali. Kita malu dengan kegagalan kita, mungkin manusia mencemooh kesalahan dan keterpurukkanmu, namun TUHAN menghormati imanmu untuk bangkit. TUHAN sendiri akan menyemangatimu untuk mengejar ketinggalanmu! Di dalam pengalaman kehidupan saya mengiring TUHAN, jujur sering-kali saya sudah putus asa dengan hidup saya sendiri. Saya sudah tak punya iman lagi untuk sekedar bangkit. Jika saat ini saya masih ada sebagaimana saya ada mengejar Panggilan-Nya, itu hanya semata-mata karena Kemurahan dan Belas-Kasihan TUHAN atas saya. Satu hal yang membuat saya dapat beriman kembali hanyalaha karena Dia menaruh Iman-Nya di dalam diri saya; bahwa DIA masih beriman saya masih dapat berubah, bahwa DIA belum selesai membentuk saya, bahwa DIA belum selesai dengan saya! Pengharapan itu bangkit karena adalah DIA sendiri yang mengulurkan Tangan-Nya membimbing saya kembali bangkit meski saya telah terkapar sekarat di padang-gurun perjalanan rohani saya yang tak mudah.  

TUHAN YESUS KRISTUS, bisa saja kecewa berat dengan Simon Petrus yang murtad! Namun IA adalah Sang Gembala Agung, yang perlu kita lakukan menilik ke dalam hati YESUS yang agung, pengasih dan mulia. Sifat TUHAN itu penuh kasih Setia dan panjang sabar. Pribadi yang memiliki sifat Ilahi pasti lapang dada dan berjiwa besar. YESUS bukannya menghukum Simon Petrus, justru YESUS memberinya sebuah kepercayaan yang besar. Sang Gembala Agung menyembuhkan iman Simon Petrus yang sekarat dan mempersiapkan Simon untuk menggembalakan Umat-Nya. Petrus yang telah melakukan dosa yang besar, kemudian diberi kehormatan yang besar. Hal ini tidak dapat dimengerti oleh orang-orang yang masih hidup di bawah Hukum Taurat, namun dapat disyukuri oleh mereka yang hidup di bawah Anugerah Kasih Karunia. Sadarkah Anda bahwa kini kita ada di bawah kasih Karunia? Bahwa tak seorangpun dan tak jua seorangpun diantara kita layak melayani-Nya? Supaya setiap kita sadar apabila kita beroleh kehormatan menjadi pelayan-Nya itu semata-mata hanyalah oleh Kemurahan-Nya saja. Tak seorangpun diantara kita dapat bermegah bahwa itu karena kita memiliki kecakapan tertentu yang membuat kita layak berada di poisisi dimana sekarang kita berada. TUHAN mempersiapkan hati Simon untuk sebuah misi yang tak semua orang bisa menjalankannya. Hanya insan yang telah mengecap dalamnya Kasih Pengampunan Kristus yang manislah yang dapat menyelesaikan tugas misi yang berat sebab orang yang sadar dirinya ialah pribadi paling berdosalahyang sadar dirinya berhutang paling banyak. Orang yang paling banyak diampuni akan paling banyak berbuat kasih. Berhentiah menghakimi, belajarlah mengasihi! Berhentilah menghakimi saudaramu, engkau tak pernah tau seberapa berat perjuangannya carut marut berjibaku untuk bangkit mengejar kembali TUHAN yang mengangkatnya kembali saat ia jatuh, TUHAN yang telah menangkap hatinya dengan cinta kasih! Pantaskah engkau menghakiminya?

“AKU berkata kepadamu: sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja engkau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan ALLAH. Sesudah mengatakan demikian IA berkata kepada Petrus: “Ikutlah AKU” (Yoh. 21: 18-19).

Saya tahu tentang seorang Kristen yang karena sesuatu hal dikeluarkan dari Gereja. Setahun kemudian orang Kristen ini memutuskan untuk kembali kepada Gereja yang dirindukannya. Namun ternyata ia merindukan orang-orang yang tak pernah merindukannya. Di hari pertama saat ia menggabungkan diri salah seorang dari anggota gereja itu berkomentar tentang kembalinya si jemaat yang baru saja kembali itu: “Masih hidup juga kah dia? Kupikir dia sudah mati!”  Sungguh penolakan yang kasar sekali! Seringkali kita sebagai orang Kristen tanpa sadar merasa bisa menjadi TUHAN untuk bisa menghakimi! Seringkali kita membuat orang yang sedang tertuduh menjadi lebih tertuduh lagi. Orang yang merasa bersalah agar merasa semakin bersalah! Kita begitu cepat menghakimi tetapi kita tidak tau menau bagaimana mengasihi. Tahukah kita apa isi hati TUHAN? Kerinduan hati Bapa adalah supaya orang-orang yang terhilang kembali bertobat. Dan agar orang-orang yang telah murtad kembali bertobat ke jalan yang benar. Itulah kerinduan hati Bapa.
          Saat kita semakin dewasa dalam TUHAN, kita akan mengerti bahwa saat seseorang sedang terpuruk dan tertolak, hal yang paling dibutuhkannya adalah kasih penerimaan. Dia tidak membutuhkan doa pelepasan dimana seseorang melototi matanya dan menengking roh-roh jahat! Yang dia butuhkan Cuma senyuman bersahabat, jabatan tangan erat, pelukkan hangat, percakapan ramah dan perlakuan penuh penerimaan. Bahkan orang yang sedang terpuruk dan tertolak ini tidak membutuhkan banyak khotbah ceramah lebih dari sebuah keluarga rohani yang mau menerimanya apa adanya. Ia tidak membutuhkan figur seorang pemimpin yang mencecar, menginterogasi, menyelidik, mengkoreksi atau mengkonfrontasinya. Ia hanya perlu figur bapa yang mendukungnya bangkit kembali.

Saat ada seseorang yang gagal, jatuh, berdosa, berbuat kesalahan dan terpuruk seringkali orang-orang di sekelilingnya memandang dengantatapan sinis yang menghakimi. Orang yang sedang bergumul untuk bangkit itu justru semakin terberati dengan sorot mata yang menolak, raut-raut muka yang tidak bersahabat. Ia bukannya terhibur, justru menjadi ciut hati dengan respon-respon dingin dari orang-orang yang ia harapkan untuk mendukungnya. Sebuah hati yang lemah sedang berjuang merayap mengejar ketinggalannya. Namun kita acuh tak acuh. Jika kita mengatakan bahwa ada Kasih Kristus di dalam hati, seharusnya kita mengamalkan kasih tanpa syarat. Sebuah hati yang hancur mencoba memungut serpihan-serpihan hatinyayang berkeping-keping. Bapa tersenyum melihat pergumulannya untuk berjuang. Namun kita menginjaknya bagaikan sampah! Siapakah kita sehingga kita memperlakukannya berlawanan dengan bagaimana TUHAN memperlakukannya? Apakah kita lebih besar dari Dia? Sadarkah kita akan kesombongan kita?

“BAPA KAU Setia.... tak kan meninggalkan
Dan kupercaya ENGKAU milikku dan ku milik-Mu
Kerinduanku, tinggikan Nama-Mu
Karna ku tahu ENGKAU dalamku
Dan ku dalam-Mu.

Ubah hatiku seputih Hati-Mu,
Setulus Salib-mu...
Kasih-Mu... TUHAN...
Biar mataku seperti seperti Mata-Mu
Pancarkan Kasih-Mu
Ku mau jadi seperti-Mu

                                                                    ---(True Worshippers)---

Mari kita renungkan syair lagu diatas. Apakah kita tak meninggalkan saudara kita yang jatuh dalam dosa seperti Kristus tak meninggalkan Petrus yan mengkhianati-Nya? Ataukah kita meninggalkan seorang yang tengah lunglai tak berdaya? Apakah hati kita seputih Hati-Nya yang dapat memandang seorang yang gagal dengan belas-kasihan dan pikiran positif? Ataukah kita terus berfikiran negatif tentang saudara kita sendiri dan tidak mau melepaskan trauma stigma negatif tentang masa lalu saudara kita? Apakah mata kita penuh dengan tatapan yang bersahabat seperti Kristus memandang Petrus dengan penerimaan yang tulus apa adanya? Apakah pandangan mata kita dicampurikebencian dan sorot mata kita mengandung kekecewaan? Apakah kita mau jadi seperti Kristus Yesus? 
          Saya merenungkan kerinduan isi Hati TUHAN BAPA dari ayat-ayat di bawah ini:
“Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” (Yeh 18:23)
“Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!" (Yeh  18 :32)
“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”(Yeh  33: 11)
“Pergilah menyerukan perkataan-perkataan ini ke utara, katakanlah: Kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah firman TUHAN. Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman TUHAN, tidak akan murka untuk selama-lamanya.” (Yer 3:12)
“Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.” (Yer 3:14)
“Kembalilah, hai anak-anak yang murtad! Aku akan menyembuhkan engkau dari murtadmu." "Inilah kami, kami datang kepada-Mu, sebab Engkaulah TUHAN, Allah kami.” (Yer 3:22).

Dari ayat-ayat nats diatas saya dapat merasakan, menangkap dan menyimpulkan bahwa kerinduan hati Bapa adalah supaya orang-orang berdosa dan orang-orang fasik bertobat dan supaya orang-orang yang telah murtad agar berbalik dan bertobat kembali. Dan apabila kita menyebut diri kita adalah anak Tuhan, kita pasti memahami isi Hati-Nya. Dan apabila Kerinduan-Nya adalah kerinduan hati kita, kita pasti akan rindu berada dimana Ia berada dan selalu bekerja seperti Bapa kita bekerja! Amin!

“Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.” (Yak. 5: 19-20)


Mari menjadi pelaku-pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja; mari kita mengasihi mereka yang terhilang s’bab kita telah berjumpa dengan Seorang pribadi Kristus Yesus yang penuh Cinta kasih..!

Comments